• Alat Penangkapan Ikan

    Date: 2012.01.25 | Category: tugas w | Response: 0

    TEMPULING

    1. Definisi dan Klasifikasi
    Tempuling merupakan alat yang mempunyai prinsip penangkapan dengan cara melukai dan atau membunuh sasaran tangkap yang dilakukan dari atas kapal atau tanpa menggunakan kapal. Desain dan konstruksi alas penjepit dan melukai mempunyai bentuk runcing atau tajam pada salah satu ujungnya. Klasifikasi alat tangkap ini termasuk dalam kelompok alat tangkap lainnya.(BBPPI 2008)

    2. Konstruksi Alat Penangkap Ikan
    Menurut Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan Perikanan :
    a) Batang Tempuling : bagian yang terbuat dari kayu, bamboo, rotan, atau logam berfungsi sebagai tangkai pegangan dan atau tempat pengikat mata tempuling pada saat digunakan.
    b) Mata Tempuling : bagian yang terbuat dari logam atau bahan lainnya dengan ujung runcing berkait atau tidak, berfungsi untuk menusuk atau melukai sasaran tangkap.
    c) Tali Penarik : tali yang diikatkan pada mata tempuling atau bagian depan batang tempuling yang dapat terlepas atu tidak, sebagai alat penarik hasil tangkapan.

    3. Kelengkapan dalam unit penangkapan ikan
    3.1 Kapal
    Perahu yang digunakan adalah perahu layar yang disebut dengan peledang. Perahu tersebut didesain tanpa penutup agar para awak kapal dapat memantau paus laut yang muncul kepermukaan (Hardianto 2008).

    3.2 Nelayan
    Jumlah nelayan pada pengoperasian tempuling adalah 7 orang anak buah kapal yang bertugas untuk mengemudikan perahu dan satu orang juru tikam (belafaing/lamafa) yang bertugas untuk melemparkan tempuling paus laut (Hardianto 2008).

    3.3 Alat Bantu
    Alat bantu pada pengoperasian tempuling adalah gancu yang berfungsi sebagai alat bantu penarik paus laut (Subani dan Barus 1989).

    3.4 Umpan
    Pengoperasian tempuling tidak menggunakan umpan karena tempuling ditombakkan langsung pada paus laut oleh juru tikam (Subani dan Barus 1989).

    4. Metode Pengoperasian
    Adapun tahapan dalam pengoperasian tempuling ada empat tahap, yaitu sebagai berikut (Subani dan Barus 1989).

    a) Tahap persiapan. Pada tahap ini, belafaing/lamafa/juru tikam mengamati tanda-tanda munculnya paus laut sementara peledang dikayuh mendekati paus laut secepatnya;

    b) Setting. Ketika peledang sudah dekat dengan paus laut, juru tikam mengangkat tempuling dan menombakkan tempuling ke tubuh paus laut, biasanya tikaman sampai empat kali atau bahkan lebih;

    c) Paus laut yang tertikam berusaha melarikan diri, sementara pembantaian terus dijalankan agar paus laut cepat mati;

    d) Hauling. Setelah paus laut mati, tempuling ditarik kembali kemudian paus tersebut ditarik mendekati peledang dan diseret ke pantai.

    5. Daerah Pengoperasian
    Daerah pengoperasian tempuling biasanya di permukaan perairan. Distribusi tempuling yaitu di desa Lamalera, Pulau Lembata (Subani dan Barus 1989).

    6. Hasil Tangkapan
    Hasil tangkapan tempuling adalah koteklemah (sperm whale, Physeter catodon), seguni (killer whale, Orcinus orca), temubela (short finned pilot whale, Globichepala macrorhyncha) dan pari hantu (big devil ray) (Subani dan Barus 1989).

    Daftar Pustaka

    Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.

    [BBPPI] Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan . 2008. Alat Penangkapan Ikan. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan.

    Hardianto,Arif. 2008. Alat Tangkap Melukai . [Terhubung Berkala] http://www.nusaland.com/travel/map/110000.ph (12 november 2011)

    Read the rest of this entry »

  • Alat Penangkapan Ikan

    Date: 2012.01.25 | Category: tugas w | Response: 0

    PUKAT KANTONG LINGKAR (Bag Seine Net)
    LAMPARA

    1.    Definisi dan Klasifikasi
    Menurut Subani dan Barus (1989), lampara merupakan alat penangkapan ikan yang terbuat dari jaring yang menyerupai payang. Lampara termasuk ke dalam klasifikasi pukat kantong (bag seine net). Alat ini digunakan untuk menangkap umpan hidup. Semula lampara diperkenalkan di Italia dan mulai diperkenalkan dan dikembangkan di Indonesia sekitar tahun 1950. Terutama di daerah dimana banyak penangkapan ikan – ikan cakalang pada daerah tersebut.

    2.    Konstruksi Alat Penangkapan Ikan
    Menurut Subani dan Barus (1989) lampara terdiri dari sayap (kiri, kanan) dan kantong. Selain itu dilengkapi pula dengan sebuah cincin dari besi yang berdiameter 2 m. Kantong lampara berbeda dengan kantong payang yang berbentuk kerucut, tetapi lebih cenderung menggelembung . Hal ini dimaksudkan agar ikan-ikan umpan yang tertangkap tidak mudah mati karena masih tersedia ruang yang cukup untuk bergerak (tidak berdesak-desakan). Ukuran panjang kaki lampara 57,5 m, panjang kantong 12,5 m, mesh size dari bagian epek-epek 11 cm, mesh size pada bagian kaki setelah epek-epek yaitu 18 cm dengan panjang 12,5 m, mesh size pada bagian kaki selanjutnya 13 cm dengan panjang 40 m, mesh size kaki pelampung 9 m. Mesh size bagian kantong yaitu 6 cm dengan panjang 10 m, mesh size bagian kantong belakang 1,5 cm dengan panjang 2,5 m. Menurut kelompok kami, parameter utama dari lampara adalah proporsional konstruksi alat tangkap.

    3.    Kelengkapan dalam unit penangkapan ikan
    3.1    Kapal
    Kapal yang digunakan dalam pengoperasian pukat tarik lampara biasanya relatif kecil dan sederhana dimana panjangnya 9-18 m dengan tipe geladak yang terbuka (Ardidja, 2007).  Kapal yang digunakan pada pengoperasian alat tangkap ini ada 3, yaitu kapal dengan ukuran lebih besar dengan bahan dasar kayu maupun besi, kemudian perahu jaring sebagai pengangkut alat tangkap, dan  perahu sebagai pembawa lampu untuk menggiring ikan (Subani dan Barus, 1989).

    3.2    Nelayan
    Menurut Ardidja (2007) lampara dioperasikan oleh awak kapal yang relatif  banyak, jumlah awak kapal lampara bermotor umumnya adalah 6 orang. Namun apabila lampara dilengkapi dengan alat penarik tali selambar yang berupa winch atau kapstan maka jumlah awak kapal menjadi 4 orang.

    3.3    Alat bantu
    Menurut Subani dan Barus (1989) alat bantu yang digunakan dalam pengoperasian lampara adalah lampu listrik atau lampu petromaks, tali hela atau tali selambar, serok, dan besi. Lampu listrik atau lampu petromaks untuk menggiring ikan, sedangkan tali hela atau tali selambar digunakan sebagai alat bantu membentuk kantung seperti mangkuk saat proses hauling. Serok digunakan untuk memindahkan ikan dari jaring ke kapal, sedangkan besi digunakan untuk membentuk kantong jaring yang sempurna. Menurut Ardidja (2007) selain itu juga terdapat beberapa nelayan yang menggunakan alat penarik tali selambar yang berupa winch atau kapstan.

    3.4    Umpan
    Menurut kelompok kami, pengoperasian lampara tidak menggunakan umpan  melainkan menggunakan lampu listrik atau petromaks yang tujuannya untuk menggiring dan mengumpulkan gerombolan ikan sehingga masuk ke dalam lingkaran jaring lampara.

    4.    Metode pengoperasian alat
    Menurut Subani dan Barus (1989) pengoperasian lampara biasanya yang dilakukan malam hari dengan bantuan lampu listrik atau petromaks. Pengkapan dilakukan di tempat-tempat yang potensi ikannya cukup banayak. Pertama-tama lampu dinyalakan, sementara itu perahu  pembawa jaring dipersiapkan. Lampu-lampu tersebut digantungkan kurang lebih antara 60-100 cm di atas permukaan air dan diusahakan agar dilengkapi dengan reflekstor dengan demikian cahayanya dapat menembus ke dalam air. Setelah diketahui banyak kawanan ikan berkerumun di bawah lampu, lampu yang ada di kapal perlahan dimatikan sementara itu perahu lampu dibawa menjauhi kawanan ikan. Dengan demkian kawanan ikan yang telah berkumpul di sekitar kapal akan tertarik dan mengikuti lampu, kemudian perahu jaring mulai menurunkan jaring mengelilingi perahu lampu. Kegiatan penurunan jaring dimulai dari bagian belakang kapal dan setelah membentuk lingkaran, tali selambar dihubungkan. Setah itu dilakukan penarikan jring ke perahu yang dimulai dari kedua ujung sayapnya, sementara itu tali yang mrnghubungkan perahu jaring dengan kapal diulur sedikit demi sedikit. Setelah badan mendekati pada begian kantong kemudian lingkaran besi dilemparkan ke dalam lampara dan terjadilah bentuk kantong yang sempurna. Lalu kawanan ikan yang terkurung dalam kantong ditarik ke kapal atau proses ini bisa disebut hauling, pemindahan ikan dari kantong ke kapal dilakukan dengan cara menyerokan sedikit demi sedikit ikan dengan tempo yang cepat agar ikan tidak lekas mati.

    5.    Daerah pengoperasian
    Alat tangkap lampara dioperasikan di perairan pantai dan teluk-teluk. Hasil pengkapan yang baik umumnya diperoleh pada malam hari dalam keadaan laut tidak bergelombang dan arus yang tidak begitu kuat ( Subani dan Barus, 1989).

    6.    Hasil tangkapan
    Menurut Subani dan Barus (1989) hasil tangkapan dari lampara merupakan jenis ikan umpan seperti ikan layang (Decapterus rusrelli), ikan kawalinya (Rastrelliger spp.), ikan sarden (Clupei), ikan teri (Stolephorus spp.), ikan lolosi (Caesio spp.).

    Daftar Pustaka
    Ardidja, S. 2007. Alat Penangkapan Ikan [terhubung berkala]. Http://www.scribd.com/doc/20111075/Alat-Penagkap-Ikan (15 November 2011).
    Subani,W dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia Jurnal Penelitian Perikanan Laut Nomor : 50 Tahun 1988/1989. Edisi Khusus. Jakarta : Balai Penelitian Perikanan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Hal. 42-43.

  • welcome to student.ipb.ac.id

    Date: 2010.07.27 | Category: tugas w | Response: 0

    selamat datang bagi mahasiswa mahasiswi  ipb.

    website ini salah satu fasilitas yang di sediakan ipb bagi para mahasiswa mahasiswi ipb.

Most Popular

Recent Comments